
Bukittinggi, 9 Maret 2026 — Di tengah semarak bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, suasana religius kian terasa di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bukittinggi. Tidak seperti biasanya, dua hari ini aula Lapas dipenuhi gema ayat suci dan lantunan adzan yang menggugah hati, menandai digelarnya lomba Tahfidz Al-Qur’an dan Adzan bagi warga binaan. Inisiatif luar biasa ini menjadi angin segar, menawarkan secercah harapan dan kesempatan bagi para penghuni Lapas untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Pembukaan kegiatan yang sarat makna ini diresmikan langsung oleh Kepala Lapas Kelas IIA Bukittinggi, Bapak Nanang Rukmana. Dalam pidatonya yang penuh inspirasi, beliau menegaskan bahwa gelaran lomba ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian integral dari program pembinaan keagamaan. Tujuan utamanya tak lain adalah untuk menggembleng mental spiritual, menumbuhkan keimanan, dan memperkokoh ketakwaan para warga binaan di bulan penuh ampunan ini.
“Hari ini kita melaksanakan lomba Tahfidz Al-Qur’an, dan besok akan dilanjutkan dengan lomba Adzan,” tutur Nanang Rukmana dengan suara bersemangat saat membuka acara. “Semoga kegiatan ini dapat menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an serta memperkuat nilai-nilai spiritual bagi warga binaan, membimbing mereka ke arah perubahan yang lebih baik.”

Antusiasme warga binaan terlihat jelas pada hari pertama, Senin (9/3), saat lomba Tahfidz Al-Qur’an dimulai. Satu per satu peserta, dengan hati bergetar namun penuh keyakinan, maju ke hadapan dewan juri. Mereka melantunkan hafalan ayat-ayat suci Al-Qur’an, sebuah pemandangan yang menyentuh dan membuktikan bahwa semangat belajar dan beribadah tak mengenal batas tembok penjara.
Keesokan harinya, Selasa (10/3), atmosfer spiritual kembali menyelimuti Lapas dengan dilaksanakannya lomba Adzan. Kali ini, para warga binaan berkompetisi dalam melantunkan panggilan sholat, menunjukkan kemampuan mereka dalam keindahan suara, ketepatan lafadz, hingga penghayatan mendalam yang mampu menyentuh sanubari setiap pendengarnya. Setiap lantunan adalah ekspresi tobat dan harapan akan rahmat-Nya.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan antusiasme yang tinggi, baik dari peserta maupun seluruh jajaran Lapas. Interaksi positif antara warga binaan dan petugas Lapas menciptakan iklim yang kondusif, mendukung proses pembinaan karakter yang humanis dan transformatif.
Melalui kegiatan positif ini, Lapas Kelas IIA Bukittinggi tidak hanya menjalankan fungsinya sebagai lembaga pemasyarakatan, tetapi juga sebagai wadah pembinaan rohani yang efektif. Diharapkan, pengalaman berharga selama Ramadhan ini akan menjadi bekal bagi warga binaan untuk meraih kehidupan yang lebih baik pasca-pembebasan.
Inisiatif seperti ini patut dicontoh, menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, Ramadhan bisa menjadi momentum emas bagi siapa saja, termasuk mereka yang sedang menjalani masa hukuman, untuk menemukan pencerahan dan jalan kembali menuju kebaikan.

dirgantaraku.com | jamgadangnews.com | bukittinggi.top | redakta.xyz | sentral.cfd | bukittinggiku.my.id
Tidak ada komentar